Selasa, 22 Januari 2013

Cerita Abd. Haris Arek Silat


KISAH ANAK PENJUAL GORENGAN YANG SUKSES JADI ATLET SILAT

            Kisah anak pedagang gorengan yang mempunyai kelebihan di bidang olahraga Atlet silat yang sukses. Nama Abd. Haris, kelahiran kota Blambangan ( BANYUWANGI), tahun 1992 Desember. Mengenal sosok pemuda bernama Abd. Haris, seorang remaja sederhana dengan segudang prestasi, dengan modal Prestasi di Pencak Silatnya dia dapat Beasiswa dari PDM Banyuwangi (pimpinan daerah muhammadiyah) untuk melanjutkan sekolah yang lebih tinggi lagi yaitu di Universitas Negeri Jember (UNEJ) tentulah memberikan suatu pencerahan bagi teman dan sekelilingnya mengenai sebuah perjuangan meraih prestasi. Hidup dengan kondisi sederhana dan bisa dibilang pas-pasan tidak membuat ia menjadi remaja yang tumpul berkreasi. Karena menurutnya bukanlah kemapanan yang bisa mengantarkan seseorang meraih prestasi, tapi ketekunan, kerja keras, dorongan orang tua, dan mendekatkan diri kepada Tuhan, adalah sarana utama meraih prestasi.

Peraih medali emas dengan predikat Juara 1 dan Pesilat terbaik se- Indonesia dalam Kejurnas Tapak Suci  2008  di Jogja dibidang Olahraga Pencak silat dan JUara 1 Popda Jatim 2008, Juara 2 Popwil 2009 Di Kendari (Sultra) dan kejuaraan lainya ditingkat kabupaten maupun di tingkat Nasional  ini, merupakan remaja yang sederhana, senang berbagi pengetahuan dengan teman-teman di sekolahnya. Saat ini dia duduk dikelas 3 IPA SMK MUH 6 Rogojampi – Banyuwangi.
Meski kondisi sekolah minim fasilitas dan tergolong daerah pedesaan, bukan menjadi penghambat bagi Haris untuk bisa bersaing mensejajarkan diri menjadi yang terbaik di Indonesia dalam bidang Olahraga.
















Haris saat menerima penganugerahan Juara 1 Kejurnas Tapak suci 2008 di Jogja 


dan Juara 1 Kejurnas mahasiswa 2012 di Kaltim

Menyukai Pencak Silat merupakan hal yang tidak diduganya, remaja dengan badan kecil 160 cm ini, awal mulanya menyukai Basket. Ketika duduk dikelas VI SDN Sidoarjo, guru dan kepala sekolahnya melihat ada sesuatu yang menonjol dalam diri Haris. Dia mampu menguasai teknik permainan basket untuk kelas VI. Kemudian dia diikutkan dalam lomba UUP sekabupaten Sidoarjo dalam permainan basket dan meraih juara II.

Saat duduk di bangku SMK MUH 6 Rogojampi, sebenarnya dia ditunjuk sebagai wakil sekolah dalam seleksi POPDA dibidang olahraga Pencak silat, namun ada salah satu  pelatih silat dari perguruan Tapak suci yang membujuknya untuk pindah berlatih lebih dalam teknik dan taktik permainan di Pencak Silat , dan insting pelatihnya benar. Pada tahun 2008, haris  berhasil meraih medali emas POPDA JATIM dibidang olahraga Pencak silat di Surabaya.

Selain Silat, sebenarnya Haris juga menguasai bidang olahraga yang lain, termasuk Basket dan Voly. Dan akhirnya Haris pindah halungan untuk menekuni BIdang olahraga Pencak Silat selama di Basket dan Voly yang tak sering juara, akhirnya pindahnya Haris di Olahraga Silatnya dia sering memperoleh juara  Diantaranya : Pesilat terbaik Kabupaten tahun 2007, Pesilat terbaik Nasional 2008, Pesilat terbaik Mahasiswa Unej 2011 dan 2007, 2008, 2009,2010, 2011 sering menjuarai lomba seperti kejuaraan pelajar dikabupaten dan di kresidenan besuki yang diadakan di Kota Jember, dan kejuaraan Mahasiswa yang diadakan beberapa universitas.

Ada sisi menarik dari sosok Haris, sebagai teman yang tergolong dekat, tatkala berkunjung kerumahnya yang sederhana, kami menyaksikan betapa seorang Haris adalah seorang yang sangat patuh dan sopan pada orang tua, contohnya dia selalu mencium tangan kedua orang tuanya ketika pergi ataupun pulang kerumah, dan berusaha untuk membahagiakan kedua orang tuanya lewat prestasi.
Dalam sisi kerohanian, dia cukup religius, selalu berusaha mendekatkan diri dengan Tuhan dengan mengerjakan sholat lima waktu, dan disekolahpun, dia mengikuti ekstrakulikuler Rohis (kerohanian Islam).

Haris sangat dekat dengan ibundanya, mungkin juga karena dia adalah anak semata wayang, maka dia anak yang digadang-gadang mampu membanggakan orang tua. Dan keunikan Haris, dia hanya berlatih jika mood saja, karena menurutnya, meski dipaksa berlatih, kalau tidak mood maka latiannya jadi males. Dan sebagai pengiring latihanya, dia selalu disertai dengan mendengar musik.

Menurut ibundanya, ibu sulastri, kehidupan Haris saat kecil sangat prihatin. Hidup yang tak mampu, dan ayahnya saat itu bekerja sebagai penjual Gorengan, membuat orangtuanya tidak mampu memberikan makanan empat sehat lima sempurna. Jangankan susu, lauk saja seringkali hanya tahu dan kecap, dan terkadang diberi ikan lemuru oleh tetangga yang nelayan. Soalnya penghasilan dari jualanya yang kadang tak laku Namun Haris kecil tumbuh sehat, dan kelebihan Haris mulai terlihat sejak TK, karena dia telah mampu beraktifitas sebagai Atlet.

Dukungan orang tua, merupakan modal utama Haris dalam meraih prestasi. Kehidupan sederhana dengan suasana kekeluargaan yang kental, komunikasi dua arah yang selalu dibuka oleh orang tuanya, membentuk Haris menjadi anak yang percaya diri. Yang berkesan baginya, dukungan orang tuanya bukan untuk menuntut dia berprestasi. Tapi memberi dukungan atas segala apa yang ia sukai dan lakukan.

Dan menurut ibundanya pula, Haris merupakan anak yang keingintahuannya dalam berlatih sangat tinggi. Jika ada suatu hal yang membuat ia penasaran, maka dia akan terus mengejarnya sampai menemukan hasilnya. Dan sewaktu ditanya mengapa suka dengan Olahraga khususnya Silat, jawabnya karena dia tidak suka Permainan individu yang sangat menarik dan berlatih untuk jadi pemberani, tapi lebih menyukai bereksplorasi.

Sebenarnya, tahun ini Haris mewakili Indonesia dalam kejuaraan Internasionalnya, namun dia tidak jadi berangkat karena anggaran yang dialokasikan dari pemerintah mengalami pemangkasan. Padahal persiapannya sudah dilakukan jauh-jauh hari.

Dari bimbingan yang intens dari pelatih nasional, bimbingan dari beberapa teknik permainan Pencak Silat, serta pelatihan intensif selama satu bulan di Bandung. Meski sedikit kecewa, namun proses yang telah ditempuhnya selama mempersiapkan diri ini djadikannya sebagai suatu pengalaman dan tambahan wawasan yang sangat berguna.

Berkaca dari seorang Haris, dengan potensi yang ada, dia mampu mengoptimalkannya ditengah fasilitas hidup yang pas-pasan. Menunjukkan kepada kita bahwa bukanlah kemapanan yang menjadi tolok ukur meraih keberhasilan. Namun kegigihan, kerja keras, dukungan keluarga, dan kebersyukuran dalam memaknai kekuranganlah yang mampu dijadikan senjata untuk meraih prestasi.

Semoga menginspirasi khususnya untuk generasi muda seluruh Indonesia.


1 komentar: